Close Menu
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Soal Dugaan Dokter Perkosa Anaknya, Legislator: Kemenkes Harus Tegas, Jangan Hanya Mengecam

Oktober 22, 2026

Hari Santri 2026, Puan Dorong Pesantren Terlibat Aktif dalam Pembangunan Nasional

Oktober 22, 2026

Hari Santri Momentum Perkuat Komitmen Negara terhadap Pesantren

Oktober 22, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Login
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Home»DPR»Komisi X DPR Soroti Ketepatan Data Desil dalam Penyaluran KIP Kuliah
DPR

Komisi X DPR Soroti Ketepatan Data Desil dalam Penyaluran KIP Kuliah

RedaksiBy RedaksiOktober 10, 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY,Esti Wijayanti dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi X di Kantor Walikota Salatiga, Jawa Tengah/Ist
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati menyoroti ketepatan data desil yang menjadi salah satu acuan pemerintah dalam menentukan penerima bantuan pendidikan dan bantuan sosial. Ia meminta evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pendataan agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak kehilangan akses terhadap bantuan akibat ketidaktepatan pengelompokan tingkat kesejahteraan.

Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena data desil berpengaruh terhadap penyaluran berbagai program pemerintah, mulai dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah hingga Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan beras. Dirinya juga menyoroti angka kesalahan data sebesar 25 persen yang disebutkan dalam pertemuan tersebut dan meminta agar persoalan itu ditelusuri lebih lanjut.

“Jika angka kesalahan mencapai 25 persen, ini berbahaya karena berdampak pada penyaluran bantuan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan beras, bahkan bantuan untuk rumah tidak layak huni,” ujar Esti saat mengikuti kunjungan kerja reses Komisi X DPR RI di Kantor Wali Kota Salatiga, Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (9/10/2026).

Perlu Verifikasi Kondisi Mahasiswa

Dalam sektor pendidikan, Esti menilai penentuan penerima KIP Kuliah tidak seharusnya hanya bergantung pada kategori desil. Verifikasi langsung terhadap kondisi calon mahasiswa diperlukan agar bantuan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan, termasuk anak-anak dari keluarga sangat tidak mampu yang menghadapi keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Ia menjelaskan, sebagian anak dari keluarga miskin bahkan telah mengurungkan niat untuk kuliah sejak lulus sekolah menengah karena merasa harus segera bekerja. Kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam penyaluran bantuan pendidikan agar keterbatasan ekonomi tidak semakin mempersempit kesempatan mereka mengenyam pendidikan tinggi.

“Kita berharap program KIP Kuliah, misalnya, tidak hanya mengandalkan desil, tetapi juga melakukan verifikasi langsung terhadap mahasiswa,” tegasnya.

Esti juga mempertanyakan ketepatan metode pendataan yang digunakan sebagai dasar penetapan penerima bantuan. Ia menilai perlu ada evaluasi terhadap proses pengumpulan dan pengolahan data, termasuk kemungkinan kendala dalam survei maupun ketidaksesuaian antara data dan kondisi riil masyarakat.

Menurutnya, pendataan di lapangan menghadapi sejumlah tantangan. Masyarakat bisa saja tidak memberikan informasi secara tepat, sementara kondisi tempat tinggal yang terlihat dari luar belum tentu mencerminkan tingkat kesejahteraan penghuninya. Rumah yang tampak layak, misalnya, bisa saja merupakan rumah kontrakan atau sewaan, bukan milik keluarga yang menempatinya.

Ia mendorong koordinasi antarkementerian dan lembaga untuk memastikan metode pendataan dan penetapan penerima program pemerintah benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Esti turut menyoroti kemungkinan perubahan kategori desil setelah keluarga menerima bantuan perbaikan rumah tidak layak huni. 

Perubahan kondisi tempat tinggal dapat memengaruhi pengelompokan kesejahteraan, padahal keluarga tersebut mungkin masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

“Pembahasannya tidak boleh lagi semata-mata berfokus pada persoalan desil, tetapi harus mengutamakan ketepatan data dan pemenuhan hak rakyat. Mereka adalah keluarga tidak mampu, sementara fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,” tuturnya.

Senada, Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menilai metode pengelompokan kesejahteraan masyarakat perlu dipahami dan dievaluasi agar dapat menjadi acuan yang tepat dalam pelaksanaan program pemerintah. Ia menyoroti perbedaan penggunaan desil dan persentil dalam pengukuran sejumlah indikator serta meminta penjelasan mengenai metode yang digunakan.

Menurut Fikri, pembagian data ke dalam sepuluh kelompok desil berpotensi membuat perubahan kondisi masyarakat langsung memengaruhi kategori kesejahteraannya. Sementara itu, persentil membagi data ke dalam seratus kelompok sehingga perubahan dapat tergambarkan secara lebih terperinci.

Ia meminta Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan penjelasan mengenai dasar penggunaan metode tersebut dan kesesuaiannya dengan kebutuhan program pemerintah. Fikri juga menyoroti pelaksanaan KIP Kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. 

Oleh karena itu, ia meminta persoalan yang muncul di lapangan dicatat dan ditindaklanjuti oleh Komisi X DPR RI terutama terkait penentuan penerima dan mekanisme penyaluran bantuan.

“Kita perlu melihat bagaimana pelaksanaan KIP Kuliah di lapangan, termasuk apakah terdapat persoalan dalam penentuan penerima maupun mekanisme penyalurannya,” ujarnya.

Maka dari itu, ia berharap evaluasi dilakukan sejak awal agar persoalan dapat diketahui dan ditangani tanpa harus menunggu hingga proses pelaksanaan berjalan lebih jauh. Peninjauan tersebut, lanjutnya, perlu mencakup pelaksanaan KIP Kuliah di perguruan tinggi negeri maupun swasta agar bantuan tersalurkan sesuai ketentuan dan menjangkau mahasiswa yang membutuhkan.

DPR RI Komisi X DPR Soroti Ketepatan Data Desil dalam Penyaluran KIP Kuliah My Esti Wijayati Wakil Ketua Komisi X DPR RI
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Redaksi

Related Posts

Soal Dugaan Dokter Perkosa Anaknya, Legislator: Kemenkes Harus Tegas, Jangan Hanya Mengecam

Oktober 22, 2026

Hari Santri 2026, Puan Dorong Pesantren Terlibat Aktif dalam Pembangunan Nasional

Oktober 22, 2026

Hari Santri Momentum Perkuat Komitmen Negara terhadap Pesantren

Oktober 22, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Our Picks

Reni Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah Bangun 1 Juta Rumah lewat MoU dengan Qatar

Januari 11, 2025

147 Aset Senilai Rp3,32 T Raib, Komisi VI Segera Panggil Pimpinan ID FOOD

Januari 10, 2025

Turnamen Bulu Tangkis Korpri Setjen DPR RI Wadah Perkuat Solidaritas Antar-Pegawai

Januari 10, 2025

Saadiah Uluputty Dukung Bisnis Perikanan di Maluku

Januari 9, 2025
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Don't Miss

Soal Dugaan Dokter Perkosa Anaknya, Legislator: Kemenkes Harus Tegas, Jangan Hanya Mengecam

DPR Oktober 22, 2026

Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bertindak tegas terhadap dokter yang…

Hari Santri 2026, Puan Dorong Pesantren Terlibat Aktif dalam Pembangunan Nasional

Oktober 22, 2026

Hari Santri Momentum Perkuat Komitmen Negara terhadap Pesantren

Oktober 22, 2026

Ateng Sutisna Desak Pemerintah Evaluasi Total Sistem Pengendalian Karhutla

Oktober 22, 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
© 2026 Koranmerdeka.co Designed by Aconymous.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?