Close Menu
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Komisi IV Apresiasi Komitmen PT MSM Reklamasi Area Pascatambang

Juni 8, 2026

Panja RUU Kehutanan Dorong Pelaku Tambang Terapkan Standar Pemulihan Lingkungan Ketat

Juni 8, 2026

Mafirion Minta Menteri HAM Fokus Selesaikan PR Penegakan HAM

Juni 8, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Login
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Home»DPR»Fikri Faqih: Serapan Anggaran Kebudayaan Rendah, Sejarah Butuh Dokumentasi Komprehensif
DPR

Fikri Faqih: Serapan Anggaran Kebudayaan Rendah, Sejarah Butuh Dokumentasi Komprehensif

RedaksiBy RedaksiJuli 7, 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih/Ist
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyoroti dua isu krusial usai rapat kerja dengan Menteri Kebudayaan, yakni rendahnya serapan anggaran dan pentingnya dokumentasi sejarah kebudayaan secara komprehensif. 

Fikri, sapaan akrabnya, menyatakan terkejut ketika Menteri Kebudayaan mengangkat isu sejarah, mengingat agenda utama rapat berfokus pada anggaran. Namun, ia menekankan bahwa pembahasan sejarah adalah hal yang amat penting dan membutuhkan penjelasan memadai.

Legislator dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) ini mencontohkan pengalamannya saat bertemu dengan Duta Besar Australia, Rodrick Brazier. Kala itu, Duta Besar Rodrick mempertanyakan keberadaan “official history” atau sejarah resmi Indonesia, yang kemudian memicu pertanyaan tentang “non-official history” atau sejarah tidak resmi.

Menurut Fikri, idealnya berbagai versi sejarah dapat didokumentasikan. Ini mencakup sudut pandang dari pihak-pihak yang berbeda, seperti versi pasukan yang tidak berpihak kepada Pangeran Diponegoro, versi Pangeran Diponegoro sendiri, bahkan versi dari pihak Belanda.

“Contoh sejarah tentang Babad Diponegoro itu ditulis paling tidak tiga versi: versi Pangerang Diponegoro sendiri, versi Belanda, bahkan versi pelaku yakni eks Bupati Purworejo,” ujar Fikri dalam keterangan persnya kepada koranmerdeka.co Senin (7/7/2025) di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa istilah “pejuang” dan “pemberontak” bisa berbeda tergantung sudut pandang. Pendekatan ini, menurutnya, akan lebih adil dan memungkinkan logika akademik untuk menguji serta menentukan versi mana yang valid untuk kepentingan penelitian atau riset sejarah.

Di sisi lain, terkait isu anggaran, Fikri menyoroti rendahnya penyerapan anggaran Kementerian Kebudayaan. Hingga 27 Juni 2025, rata-rata penyerapan anggaran mitra Komisi X DPR RI, termasuk Kementerian Kebudayaan, baru mencapai 19,41%. 

Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang serapannya mencapai lebih dari 40%.

“Meskipun bukan hanya serapan, namun ini kompetisi akuntabilitas dan nilai manfaat. Tapi Kemenbud harus berusaha lebih keras lagi menggesa pelaksanaan program,” jelas Fikri.

Ia juga mengungkapkan kekagetannya atas usulan kenaikan anggaran yang fantastis dari Rp 827 miliar menjadi Rp 5,7 triliun. Menurutnya, Kementerian Kebudayaan harus memiliki narasi kuat untuk menjelaskan alasan penambahan anggaran sebesar Rp 4,7 triliun tersebut dalam pertemuan trilateral mendatang.

“Bukan hanya formal, namun pembahasan yang lebih substansial. Sehingga anggota Banggar dari Komisi X pun bisa memperjuangkan penguatan pembahasan di Badan Anggaran selanjutnya,” papar legislator dari daerah pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah (Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes) ini.

Fikri juga meminta ada penjelasan dari Menteri Kebudayaan apakah sudah ada pembicaraan di luar forum resmi (trilateral meeting) mengenai anggaran yang sangat besar ini.

“Sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, kebudayaan seharusnya bukan ‘cost center’ yang hanya menghabiskan anggaran. Melainkan, kebudayaan dapat menjadi ‘sumber ekonomis’ yang memajukan bangsa dan menjadikan Indonesia lebih beradab serta berbudaya,” jelas Fikri.

Terakhir, Fikri juga menyoroti kondisi memprihatinkan para budayawan, terutama setelah pandemi COVID-19. Banyak budayawan kesulitan mengakses sarana untuk tampil dan berkomunikasi, bahkan ada yang terpaksa menjual alat musik demi bertahan hidup. 

Atas dasar itu, Fikri berharap dana Indonesiana dapat menjadi “secercah harapan” bagi mereka.

“Faktanya dana Indonesiana dikeluhkan para budayawan yang susah mengakses dan sangat berbelit belit prosedurnya. Sehingga sangat sedikit dari mereka yang dapat memanfaatkannya,” pungkasnya. 

Abdul Fikri Faqih Anggota Komisi X DPR RI DPR RI Sejarah Butuh Dokumentasi Komprehensif
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Redaksi

Related Posts

Komisi IV Apresiasi Komitmen PT MSM Reklamasi Area Pascatambang

Juni 8, 2026

Panja RUU Kehutanan Dorong Pelaku Tambang Terapkan Standar Pemulihan Lingkungan Ketat

Juni 8, 2026

Mafirion Minta Menteri HAM Fokus Selesaikan PR Penegakan HAM

Juni 8, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Our Picks

Reni Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah Bangun 1 Juta Rumah lewat MoU dengan Qatar

Januari 11, 2025

147 Aset Senilai Rp3,32 T Raib, Komisi VI Segera Panggil Pimpinan ID FOOD

Januari 10, 2025

Turnamen Bulu Tangkis Korpri Setjen DPR RI Wadah Perkuat Solidaritas Antar-Pegawai

Januari 10, 2025

Saadiah Uluputty Dukung Bisnis Perikanan di Maluku

Januari 9, 2025
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Don't Miss

Komisi IV Apresiasi Komitmen PT MSM Reklamasi Area Pascatambang

DPR Juni 8, 2026

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, memberikan apresiasi mendalam terhadap langkah nyata…

Panja RUU Kehutanan Dorong Pelaku Tambang Terapkan Standar Pemulihan Lingkungan Ketat

Juni 8, 2026

Mafirion Minta Menteri HAM Fokus Selesaikan PR Penegakan HAM

Juni 8, 2026

Panja RUU Kehutanan Soroti Kompleksitas Tantangan Hutan Indonesia

Juni 8, 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
© 2026 Koranmerdeka.co Designed by Aconymous.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?