Close Menu
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pemerintah Perlu Antisipasi Dampak Geopolitik terhadap Harga BBM

Maret 10, 2026

Dukung Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 Demi Lindungi Anak di Ruang Digital

Maret 9, 2026

Baleg Matangkan RUU Satu Data Indonesia, Serap Masukan Daerah di Padang

Maret 9, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Login
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Home»DPR»I Nyoman Parta Dorong Pemetaan Hutan Adat dalam RUU Satu Data Indonesia
DPR

I Nyoman Parta Dorong Pemetaan Hutan Adat dalam RUU Satu Data Indonesia

RedaksiBy RedaksiMaret 7, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI I Nyoman Parta,saat kunjungan kerja Baleg DPR RI ke Provinsi Sumatera Barat dalam rangka penyusunan RUU SDI/Ist
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI I Nyoman Parta menilai penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Satu Data Indonesia (RUU SDI) memiliki keterkaitan erat dengan upaya penyelesaian berbagai persoalan konflik lahan, khususnya yang melibatkan masyarakat adat. Hal tersebut disampaikannya saat kunjungan kerja Baleg DPR RI ke Provinsi Sumatera Barat dalam rangka penyusunan RUU SDI, Jumat (6/3/2026).

Menurut Parta, momentum penyusunan RUU SDI menjadi peluang besar untuk memperbaiki sistem pendataan nasional, termasuk terkait kepemilikan lahan masyarakat adat yang selama ini kerap menimbulkan konflik.

“Ketika kita akan membuat terobosan besar tentang Satu Data Indonesia ini, pada saat yang sama Baleg juga sedang menginisiasi Undang-Undang tentang Masyarakat Adat. Sesungguhnya ini sangat berkaitan dengan persoalan kepemilikan lahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konflik agraria kerap muncul di wilayah yang tumpang tindih antara kawasan hutan negara dan wilayah adat. Salah satu persoalan yang sering terjadi adalah keberadaan desa di kawasan hutan atau kawasan hutan yang berada di wilayah desa.

Nyoman Parta mengingatkan bahwa secara hukum status hutan adat telah ditegaskan melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012, yang menyatakan bahwa hutan adat bukan lagi merupakan hutan negara. Dengan demikian, negara tidak boleh memperlakukan kawasan tersebut sebagai bagian dari hutan negara.

“Sudah ditegaskan dalam putusan MK bahwa hutan adat bukan hutan negara. Artinya, negara tidak boleh masuk ke wilayah hutan adat tersebut,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam praktiknya masih banyak kendala, terutama terkait penentuan batas wilayah adat. Sebab, masyarakat adat umumnya menentukan batas wilayah secara alami menggunakan bentang alam seperti gunung, jurang, atau sungai.

Selain itu, pola pertanian masyarakat adat yang berpindah juga sering disalahpahami sebagai perambahan hutan. Padahal, menurutnya, perpindahan tersebut berkaitan dengan siklus kesuburan tanah.

“Masyarakat adat bertani berpindah bukan karena desanya berpindah, tetapi karena kesuburan tanah biasanya bertahan sekitar delapan tahun. Setelah itu mereka mencari lahan baru, dan sekitar 25 tahun kemudian mereka kembali lagi ke lokasi awal,” jelasnya.

Karena itu, Nyoman Parta menilai diperlukan pemetaan wilayah adat secara lebih akurat dan komprehensif agar potensi konflik dapat diminimalkan. Ia bahkan mengusulkan pemanfaatan teknologi pemetaan, termasuk dukungan dari berbagai pihak, untuk membantu memetakan wilayah masyarakat adat secara lebih jelas.

Dengan adanya sistem pendataan yang terintegrasi melalui RUU SDI, ia berharap pemerintah dapat memiliki data yang lebih lengkap mengenai kawasan hutan negara, hutan rakyat, hingga wilayah masyarakat adat di seluruh Indonesia.

“Jika data ini tersedia secara jelas, kita bisa mengetahui berapa luas hutan negara, hutan rakyat, serta berapa jumlah masyarakat adat yang masih utuh di Republik ini. Dengan begitu konflik yang berkaitan dengan izin pertambangan dan lainnya bisa diminimalisasi,” pungkasnya.

Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI DPR RI I Nyoman Parta I Nyoman Parta Dorong Pemetaan Hutan Adat dalam RUU Satu Data Indonesia
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Redaksi

Related Posts

Pemerintah Perlu Antisipasi Dampak Geopolitik terhadap Harga BBM

Maret 10, 2026

Dukung Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 Demi Lindungi Anak di Ruang Digital

Maret 9, 2026

Baleg Matangkan RUU Satu Data Indonesia, Serap Masukan Daerah di Padang

Maret 9, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Our Picks

Reni Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah Bangun 1 Juta Rumah lewat MoU dengan Qatar

Januari 11, 2025

147 Aset Senilai Rp3,32 T Raib, Komisi VI Segera Panggil Pimpinan ID FOOD

Januari 10, 2025

Turnamen Bulu Tangkis Korpri Setjen DPR RI Wadah Perkuat Solidaritas Antar-Pegawai

Januari 10, 2025

Saadiah Uluputty Dukung Bisnis Perikanan di Maluku

Januari 9, 2025
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Don't Miss

Pemerintah Perlu Antisipasi Dampak Geopolitik terhadap Harga BBM

DPR Maret 10, 2026

Komisi VI DPR RI mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global terhadap pasokan dan…

Dukung Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 Demi Lindungi Anak di Ruang Digital

Maret 9, 2026

Baleg Matangkan RUU Satu Data Indonesia, Serap Masukan Daerah di Padang

Maret 9, 2026

Martin Manurung Tekankan Pentingnya Penentuan Level Integrasi Data dalam RUU SDI

Maret 9, 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
© 2026 Koranmerdeka.co Designed by Aconymous.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?