Close Menu
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Transformasi Digital TASPEN Sukses Cairkan 97 Persen Penerima THR dalam Waktu Singkat

Maret 6, 2026

Dukung Kongres II IKAPBN, BK DPR: Perkuat Analis APBN yang Profesional dan Independen

Maret 5, 2026

Ada 814 Lubang Tambang Terbuka di Kalsel, Mercy Barends: Tindak Tegas Pelanggarannya

Maret 5, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Login
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Home»DPR»Soroti Insentif Biodiesel dari BPDP, Arif Riyanto Uopdana Tekankan Tiga Hal
DPR

Soroti Insentif Biodiesel dari BPDP, Arif Riyanto Uopdana Tekankan Tiga Hal

RedaksiBy RedaksiFebruari 18, 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Anggota Komisi XII DPR RI Arif Riyanto Uopdana dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Dirjen EBTKE dan Dirjen Migas Kementerian ESDM RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta/Ist
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Anggota Komisi XII DPR RI Arif Riyanto Uopdana menyoroti pentingnya insentif dalam program biodiesel agar harganya dapat bersaing dengan bahan bakar solar. Menurutnya, Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel lebih tinggi dibandingkan HIP solar, sehingga diperlukan dukungan insentif dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk menutupi selisih harga tersebut.

“HIP biodiesel lebih tinggi dari HIP solar, sehingga harus ada insentif dari BPDP atau BPDPKS. Anggaran BPDP sendiri berasal dari pungutan ekspor komoditas minyak sawit, dan mungkin sekarang sudah diperluas dengan tambahan dari kelapa dan kakao,” ujar Arif dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Dirjen EBTKE dan Dirjen Migas Kementerian ESDM RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta,Selasa (18/2/2025).

Arif menjelaskan bahwa sejak program biodiesel mulai diterapkan pada 2015 dengan B15, insentif yang diberikan pemerintah terus meningkat. Saat ini, dengan implementasi B35, besaran insentif yang harus ditanggung BPDP juga semakin besar. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri mengingat pendapatan BPDP sangat bergantung pada penerimaan dari ekspor minyak sawit yang harganya fluktuatif.

“Di saat harga ekspor minyak sawit tinggi, BPDP memiliki kemampuan untuk memberikan insentif. Namun, jika harga turun, ini akan menjadi kendala. Sebagai contoh, pada 2020 ketika pandemi COVID-19, pemerintah harus memberikan insentif tambahan sebesar Rp2,7 triliun,” jelas Politisi PDI-Perjuangan ini.

Lebih lanjut, Arif menekankan bahwa BPDP memiliki mandat lain seperti pendanaan untuk program peremajaan sawit rakyat, peningkatan kapasitas SDM petani sawit, serta penyediaan sarana dan prasarana perkebunan sawit. Oleh karena itu, ia menilai penting untuk memastikan BPDP tidak kewalahan secara fiskal akibat beban insentif biodiesel.

Meskipun demikian, ia menyambut baik program B40 yang akan dijalankan tahun ini dan rencana peningkatan ke B50 pada 2026. Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan ini harus dikaji dari tiga aspek utama, yakni fiskal, pasar, dan lingkungan.

“Kami mendukung kebijakan ini pada prinsipnya, tetapi perlu ada kajian lebih lanjut. Pertama, dari aspek fiskal BPDP sendiri, apakah mampu menanggung beban insentif ini. Kedua, dari aspek pasar, karena biodiesel hanya dikonsumsi di dalam negeri, sementara di sisi lain kita juga mendorong energi lain seperti kendaraan listrik dan dieselisasi di sektor pertambangan. Ketiga, dari aspek lingkungan, karena masih banyak isu terkait kelapa sawit yang harus dimitigasi melalui perbaikan tata kelola dan regulasi,” paparnya.

Legislator Dapil Papua ini menegaskan bahwa kebijakan biodiesel harus sejalan dengan keberlanjutan sektor energi dan lingkungan di Indonesia. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk terus mengevaluasi dan mengoptimalkan implementasi program ini agar tetap memberikan manfaat bagi perekonomian dan masyarakat luas. 

Anggota Komisi XII DPR RI Arif Riyanto Uopdana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) DPR RI Soroti Insentif Biodiesel dari BPDP
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Redaksi

Related Posts

Dukung Kongres II IKAPBN, BK DPR: Perkuat Analis APBN yang Profesional dan Independen

Maret 5, 2026

Ada 814 Lubang Tambang Terbuka di Kalsel, Mercy Barends: Tindak Tegas Pelanggarannya

Maret 5, 2026

Anak Penjual Nasi Goreng Dikeroyok 30 Orang, Abduh Pertanyakan Penegakan Hukum Kasus Arnendo

Maret 5, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Our Picks

Reni Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah Bangun 1 Juta Rumah lewat MoU dengan Qatar

Januari 11, 2025

147 Aset Senilai Rp3,32 T Raib, Komisi VI Segera Panggil Pimpinan ID FOOD

Januari 10, 2025

Turnamen Bulu Tangkis Korpri Setjen DPR RI Wadah Perkuat Solidaritas Antar-Pegawai

Januari 10, 2025

Saadiah Uluputty Dukung Bisnis Perikanan di Maluku

Januari 9, 2025
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Don't Miss

Transformasi Digital TASPEN Sukses Cairkan 97 Persen Penerima THR dalam Waktu Singkat

Nasional Maret 6, 2026

PT TASPEN (Persero) mencatat rekor baru dalam pelayanan kepada pensiunan. Pada 2026, pembayaran Tunjangan Hari…

Dukung Kongres II IKAPBN, BK DPR: Perkuat Analis APBN yang Profesional dan Independen

Maret 5, 2026

Ada 814 Lubang Tambang Terbuka di Kalsel, Mercy Barends: Tindak Tegas Pelanggarannya

Maret 5, 2026

Anak Penjual Nasi Goreng Dikeroyok 30 Orang, Abduh Pertanyakan Penegakan Hukum Kasus Arnendo

Maret 5, 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
© 2026 Koranmerdeka.co Designed by Aconymous.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?