Anggota Komisi VII DPR RI Rahmawati menilai pengembangan pariwisata nasional perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan kualitas pengalaman wisata, lama tinggal, belanja wisatawan, serta manfaat ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat.
Dalam kerangka tersebut, desa wisata memiliki posisi strategis karena mampu mengintegrasikan potensi alam, budaya, kreativitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu ekosistem pariwisata berbasis komunitas.
Menurut Rahmawati, keberhasilan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam maupun keunikan budaya. Pengelolaan destinasi harus didukung kualitas sumber daya manusia (SDM), pelayanan atau hospitality, aksesibilitas, amenitas, kelembagaan, pemasaran, serta kemampuan masyarakat dalam menciptakan pengalaman wisata yang menarik dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Rahmawati saat melihat langsung pengembangan Desa Wisata Nglanggeran. Ia mengaku terkesan melihat bagaimana potensi desa dapat dikelola secara terintegrasi hingga mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurutnya, Nglanggeran memberikan pembelajaran penting mengenai bagaimana sebuah desa dapat mengembangkan potensi lokal sekaligus membangun pasar pariwisatanya.
“Saya luar biasa melihat situasi yang ada di sini, saya jadi iri. Wilayah dapil saya, istilahnya, sama dengan apa yang ada di sini, banyak SDM-nya, Kalimantan Utara. Di sini saya banyak belajar,” ujar Rahmawati usai mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).
Ia menilai pengalaman Desa Wisata Nglanggeran penting untuk direplikasi dan disesuaikan dengan karakteristik daerah lain. Terlebih, setiap daerah memiliki kekayaan alam dan budaya yang dapat menjadi modal utama pengembangan pariwisata apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Rahmawati secara khusus menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat dalam aspek hospitality dan kemampuan bahasa asing. Menurutnya, ketika desa wisata mulai menyasar wisatawan mancanegara, masyarakat sebagai pelaku utama destinasi harus memiliki kemampuan memberikan pelayanan yang profesional dan komunikatif.
“Dari tadi kita berbicara bagaimana pengembangan Desa Wisata Nglanggeran, bagaimana market-nya sampai wisatawan dalam negeri dan luar negeri bisa datang ke sini. Hanya saya ingin sedikit menambah, bagaimana fokus pada hospitality dan bahasa asing untuk melayani para wisatawan asing,” katanya.
Menurutnya, kemampuan tersebut bukan sekadar persoalan teknis pelayanan, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan. Keramahan masyarakat, kemampuan berkomunikasi, pemahaman terhadap kebutuhan wisatawan, hingga kemampuan menjelaskan potensi budaya dan lingkungan setempat dapat menjadi faktor yang menentukan apakah wisatawan akan merasa nyaman, memperpanjang masa tinggal, bahkan kembali berkunjung.
Karena itu, ia mendorong pengembangan SDM menjadi agenda yang berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur dan promosi pariwisata. Jangan sampai sebuah daerah memiliki potensi alam yang besar dan telah dikenal wisatawan, tetapi belum mampu memberikan pelayanan yang sebanding karena keterbatasan kapasitas masyarakat.
Rahmawati juga melihat Nglanggeran dapat menjadi ruang belajar bagi daerah lain yang tengah membangun desa wisatanya. Ia menyampaikan bahwa Dinas Pariwisata Kalimantan Utara nantinya akan melakukan kunjungan untuk mempelajari pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran secara langsung.
“Nantinya Dinas Pariwisata Kalimantan Utara akan berkunjung ke sini, akan belajar dengan Desa Wisata Nglanggeran. Karena kami punya alam yang luar biasa, hanya SDM kami yang perlu ditingkatkan,” tuturnya.
Ia menilai pendekatan pembelajaran antardaerah semacam itu penting karena pengembangan desa wisata tidak selalu harus dimulai dari nol. Daerah dapat mempelajari praktik baik yang telah berhasil diterapkan di destinasi lain, kemudian menyesuaikannya dengan potensi, karakter masyarakat, kondisi lingkungan, serta pasar wisata masing-masing.
Dalam konteks Kalimantan Utara, Rahmawati menyebut potensi alam yang dimiliki sangat besar. Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat agar mampu mengelola destinasi secara mandiri, profesional, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, pariwisata tidak berhenti pada aktivitas kunjungan, tetapi dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang bagi masyarakat lokal.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dengan keberlanjutan lingkungan dan sosial. Pengembangan destinasi harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, kelestarian sumber daya alam dan budaya, serta karakter kehidupan masyarakat setempat. Dengan pendekatan tersebut, peningkatan kunjungan wisatawan tidak justru mengurangi kualitas destinasi dalam jangka panjang.
Rahmawati berharap pengalaman Nglanggeran dapat menjadi salah satu contoh bahwa desa wisata dapat berkembang melalui penguatan masyarakat sebagai aktor utama. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola desa wisata, masyarakat, pelaku usaha, dan sektor pendidikan dinilai diperlukan untuk membangun ekosistem pariwisata yang semakin berkualitas.
“Yang paling penting bagaimana kita meningkatkan SDM. Karena alam yang luar biasa tanpa SDM yang mampu mengelola dan melayani wisatawan dengan baik, tentu belum cukup,” pungkas Rahmawati.
