Close Menu
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pemerintah Perlu Antisipasi Dampak Geopolitik terhadap Harga BBM

Maret 10, 2026

Dukung Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 Demi Lindungi Anak di Ruang Digital

Maret 9, 2026

Baleg Matangkan RUU Satu Data Indonesia, Serap Masukan Daerah di Padang

Maret 9, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Login
  • Nasional
  • Polhukam
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Daerah
KORAN MERDEKAKORAN MERDEKA
Home»DPR»Regulasi Pembatasan Akses Internet, Lindungi Anak di Ranah Digital
DPR

Regulasi Pembatasan Akses Internet, Lindungi Anak di Ranah Digital

RedaksiBy RedaksiFebruari 18, 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin mengungkapkan kekhawatirannya terkait ancaman privasi dan pencurian data yang dapat membahayakan anak-anak dalam penggunaan internet. Hal ini diungkapkan Nurul Arifin saat diskusi Forum Legislasi yang digelar oleh Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan Parlemen dengan tema "Mendorong Efektivitas Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembatasan Akses Internet Terhadap Anak" di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta. Dalam diskusi tersebut, Nurul Arifin menyoroti bahwa banyak anak-anak yang tidak menyadari dampak buruk dari berbagi informasi pribadi secara sembarangan. "Mereka mungkin membagikan data seperti alamat rumah, telepon, atau foto tanpa menyadari risikonya. Informasi ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk penipuan, pencurian identitas, bahkan membahayakan keselamatan mereka," ujar Nurul Arifin saat hadir sebagai Narasumber dalam diskusi yang digelar di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (18/2/2025). Selain itu, Legislator Fraksi Golkar tersebut juga mengungkapkan keprihatinan terkait ketergantungan teknologi di kalangan anak-anak. "Ketergantungan pada teknologi itu tidak masalah, karena kita harus mengikuti kemajuan zaman. Namun, prinsipnya adalah teknologi harus dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya. Anak-anak harus tetap berada di bawah pengawasan orangtua," tambahnya. Lebih lanjut, Nurul Arifin menekankan pentingnya peran orangtua dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak, melalui fitur parental control pada perangkat digital. "Orangtua yang peduli dan paham teknologi dapat mengatur akses anak-anak ke platform digital yang aman dan sesuai," tandas Nurul Arifin. Tak hanya itu, ia juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang membatasi akses anak-anak ke platform tertentu. Ia mencontohkan beberapa negara maju seperti Inggris, yang sudah memiliki kebijakan The Online Safety Act untuk melindungi anak-anak dari bahaya dunia digital. Di Australia, juga ada pelarangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun. Serta anak-anak di Perancis di bawah 15 tahun memerlukan izin orangtua untuk mendaftar di media sosial. “Jadi ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, kita ingin memerangi bersama-sama kerusakan sosial akibat dari medsos itu sendiri. Saya mewakili Ibu-Ibu ini lebih cepat diimplementasikan tidak sebatas wacana saja, mari Pemerintah kami di DPR kita sama-sama bekerja merealisasikan Undang-Undang ataupun aturan-aturan yang bisa membatasi anak-anak kita, bukan membatasi eksplorasi mereka yang sifatnya edukasi, tapi yang sifatnya negatif,” pungkasnya. Selain itu, Komisioner KPAI Kawiyan juga menyatakan kesepakatan dengan pentingnya regulasi untuk melindungi anak-anak di ranah digital. Ia menuturkan sebenarnya bahwa Pemerintah sudah sempat mempersiapkan draf Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Perlindungan Anak dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE) yang akan segera disahkan, hanya memang lantas terjadi pergantian pemerintahan kemudian terjadi perubahan beberapa nomenklatur. “Kemudian Presiden Prabowo menangkap isu pentingnya perlindungan anak di ranah digital atau ranah daring. Kemudian, Menkomdigi Meutya Hafid dipanggil kemudian mendapat mandat tugas khusus untuk membuat regulasi untuk melindungi anak di ranah digital,” tutur Komisioner KPAI Kawiyan. Turut hadir Praktisi Media Saktia Andri Susilo dengan Moderator Anggota KWP Raiza Andini/Ist
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin mengungkapkan kekhawatirannya terkait ancaman privasi dan pencurian data yang dapat membahayakan anak-anak dalam penggunaan internet. Hal ini diungkapkan Nurul Arifin saat diskusi Forum Legislasi yang digelar oleh Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan Parlemen dengan tema “Mendorong Efektivitas Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembatasan Akses Internet Terhadap Anak” di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta.

Dalam diskusi tersebut, Nurul Arifin menyoroti bahwa banyak anak-anak yang tidak menyadari dampak buruk dari berbagi informasi pribadi secara sembarangan. “Mereka mungkin membagikan data seperti alamat rumah, telepon, atau foto tanpa menyadari risikonya. Informasi ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk penipuan, pencurian identitas, bahkan membahayakan keselamatan mereka,” ujar Nurul Arifin saat hadir sebagai Narasumber dalam diskusi yang digelar di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (18/2/2025).

Selain itu, Legislator Fraksi Golkar tersebut juga mengungkapkan keprihatinan terkait ketergantungan teknologi di kalangan anak-anak. “Ketergantungan pada teknologi itu tidak masalah, karena kita harus mengikuti kemajuan zaman. Namun, prinsipnya adalah teknologi harus dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya. Anak-anak harus tetap berada di bawah pengawasan orangtua,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nurul Arifin menekankan pentingnya peran orangtua dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak, melalui fitur parental control pada perangkat digital. “Orangtua yang peduli dan paham teknologi dapat mengatur akses anak-anak ke platform digital yang aman dan sesuai,” tandas Nurul Arifin.

Tak hanya itu, ia juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang membatasi akses anak-anak ke platform tertentu. Ia mencontohkan beberapa negara maju seperti Inggris, yang sudah memiliki kebijakan The Online Safety Act untuk melindungi anak-anak dari bahaya dunia digital. Di Australia, juga ada pelarangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun. Serta anak-anak di Perancis di bawah 15 tahun memerlukan izin orangtua untuk mendaftar di media sosial.

“Jadi ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, kita ingin memerangi bersama-sama kerusakan sosial akibat dari medsos itu sendiri. Saya mewakili Ibu-Ibu ini lebih cepat diimplementasikan tidak sebatas wacana saja, mari Pemerintah kami di DPR kita sama-sama bekerja merealisasikan Undang-Undang ataupun aturan-aturan yang bisa membatasi anak-anak kita, bukan membatasi eksplorasi mereka yang sifatnya edukasi, tapi yang sifatnya negatif,” pungkasnya.

Selain itu, Komisioner KPAI Kawiyan juga menyatakan kesepakatan dengan pentingnya regulasi untuk melindungi anak-anak di ranah digital. Ia menuturkan sebenarnya bahwa Pemerintah sudah sempat mempersiapkan draf Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Perlindungan Anak dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE) yang akan segera disahkan, hanya memang lantas terjadi pergantian pemerintahan kemudian terjadi perubahan beberapa nomenklatur.

“Kemudian Presiden Prabowo menangkap isu pentingnya perlindungan anak di ranah digital atau ranah daring. Kemudian, Menkomdigi Meutya Hafid dipanggil kemudian mendapat mandat tugas khusus untuk membuat regulasi untuk melindungi anak di ranah digital,” tutur Komisioner KPAI Kawiyan. Turut hadir Praktisi Media Saktia Andri Susilo dengan Moderator Anggota KWP Raiza Andini.

Anggota Komisi I DPR RI DPR RI Nurul Arifin Regulasi Pembatasan Akses Internet
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Redaksi

Related Posts

Pemerintah Perlu Antisipasi Dampak Geopolitik terhadap Harga BBM

Maret 10, 2026

Dukung Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 Demi Lindungi Anak di Ruang Digital

Maret 9, 2026

Baleg Matangkan RUU Satu Data Indonesia, Serap Masukan Daerah di Padang

Maret 9, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Our Picks

Reni Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah Bangun 1 Juta Rumah lewat MoU dengan Qatar

Januari 11, 2025

147 Aset Senilai Rp3,32 T Raib, Komisi VI Segera Panggil Pimpinan ID FOOD

Januari 10, 2025

Turnamen Bulu Tangkis Korpri Setjen DPR RI Wadah Perkuat Solidaritas Antar-Pegawai

Januari 10, 2025

Saadiah Uluputty Dukung Bisnis Perikanan di Maluku

Januari 9, 2025
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Don't Miss

Pemerintah Perlu Antisipasi Dampak Geopolitik terhadap Harga BBM

DPR Maret 10, 2026

Komisi VI DPR RI mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global terhadap pasokan dan…

Dukung Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 Demi Lindungi Anak di Ruang Digital

Maret 9, 2026

Baleg Matangkan RUU Satu Data Indonesia, Serap Masukan Daerah di Padang

Maret 9, 2026

Martin Manurung Tekankan Pentingnya Penentuan Level Integrasi Data dalam RUU SDI

Maret 9, 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
© 2026 Koranmerdeka.co Designed by Aconymous.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?